Pemerintah Dorong Pengembangan UMKM

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, perbankan, swasta dan lembaga nonpemerintah lainnya. Hal ini dikarenakan UMKM telah berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan teruji pula terhadap terpaan badai krisis finansial.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendorong kerja sama global yang melibatkan pemangku kepentingan untuk mengembangkan UMKM. Pengembangan UMKM terbukti mengurangi kemiskinan dan pengangguran, yang didambakan para pemimpin dunia.

“Indonesia terus berperan aktif untuk menggalang kerja sama global,” kata Presiden ketika membuka International Microfinance Conference di Yogyakarta, Senin (22/10/2012).

Presiden mengatakan, keseimbangan ekonomi, dan juga pertumbuhan yang kuat, kerap menjadi salah satu agenda pertemuan para pemimpin dunia, baik skala regional maupun global, seperti G20.

Pada kesempatan itu, Presiden menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk melakukan intervensi positif dan proporsional dalam pengembangan UMKM. Berdasarkan pengalaman, mekanisme pasar kerap tak berdaya mewujudkan keadilan. “Pemerintah wajib memberikan keadilan dan mengurangi ketimpangan,” kata Presiden.

Bunga KUR masih tinggi

Di tempat yang sama, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syarief Hasan mengakui angka penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) bagi pelaku UMKM terus naik. Namun, bunga KUR terbilang masih tinggi yakni di atas 22 persen per tahun.

“Tingkat bunga kredit untuk pelaku UMKM memang masih tinggi jika dibandingkan dengan bunga kredit korporasi,” ujarnya.

Sesuai data Kementerian Koperasi dan UKM, platfon penyaluran KUR naik dari Rp27 triliun pada 2011 menjadi Rp 30 triliun tahun 2012. Sementara akumulasi penyaluran KUR sejak tahun 2007 mencapai Rp 89,968 triliun kepada 7.162.007 pelaku UMKM.

Nilai KUR naik dari maksimal Rp 5 juta per pelaku UMKM menjadi Rp 20 juta. Sedangkan tingkat bunga KUR bagi pelaku mikro masih sekitar 22-24 persen per tahun dan bunga KUR bagi pelaku ritel sebesar 13 persen.

“Tingginya bunga kredit ini disebabkan oleh besarnya biaya yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan dalam penyaluran kredit,” kilahnya.

Syarief menjelaskan sistem penyaluran kredit bagi pelaku UMKM berbeda dengan korporasi. Dalam penyaluran kredit UMKM, lembaga keuangan seperti bank umum nasional dan Bank Perkreditan Rakyat langsung menjangkau nasabahnya secara langsung hingga ke tingkat pedesaan.

Penyebabnya adalah minimnya infrastruktur terhadap akses perbankan di daerah tersebut. “Ke depan, tingkat bunga kredit akan diturunkan seiring efisiensi yang dilakukan perbankan,” tegasnya.

Turut hadir pada konferensi tersebut, antara lain, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Menteri Perindustrian MS Hidayat. Hadir pula para pelaku pembiayaan kredit mikro, termasuk pendiri Grameen Bank Prof Muhammad Yunus, sekaligus pemenang Nobel Perdamaian 2006.

 

Analisis : adanya ukm ini saya rasa sangat membantu kalangan bawah dengan adanya ukm ini pemerintah harus membuat keterampilan” bagi masyarakat agar usahannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama  dan mengurangi pengangguran.

Sumber :  http://www.koperasi165.com/news/view/548

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s